Semakin Berkembang di Indonesia, Terapi Stem Cell Tak Perlu Lagi ke Singapura

Ajeng Annastasia Kinanti – detikHealth

Selasa, 03/12/2013 15:28 WIB

153024_peneliti

Jakarta, Akhir-akhir ini stem cell (sel punca) menjadi topik hangat yang sering dibicarakan oleh banyak orang. Meski sebagian besar masih dalam tahap penelitian, stem cell mulai banyak diminati. Untuk terapi stem cell, kebanyakan orang Indonesia harus pergi dulu ke Singapura. Namun kini tidak perlu jauh-jauh karena di negeri sendiri pun bisa dilakukan.

Dibandingkan di Indonesia, di luar negeri seperti Singapura pengobatan dengan stem cell sudah menjadi standar. “Tapi kita bersyukur di Indonesia sudah mulai ada penelitiannya. Kalau mau stem cell harus ke Singapura, prosesnya sangat panjang dan mahal. Oleh sebab itu saya optimistis di Indonesia terapi ini akan berkembang,” tutur dr Yudi Her Oktaviono, SpJP(K), FIHA, FICA, FSCAI, selaku dokter ahli jantung dan pembuluh darah dalam seminar media yang diselenggarakan di Auditorium Prodia Tower, Jl Kramat Raya, Jakarta, Selasa (3/12/2013).

Dia menjelaskan terapi stem cell terbagi menjadi tiga jenis, yaitu autologus (sumber stem cell dari diri sendiri); syngenic (sumber stem cell dari saudara kembar identik); dan alogenik (sumber stem cell dari saudara kandung, orang tua atau orang lain).

Stem cell menjadi sangat penting dalam dunia medis karena diyakini dapat digunakan untuk terapi penyakit yang saat ini masih sulit disembuhkan. Beberapa penyakit tersebut antara lain leukemia, anemia, thalassemia dan cerebral palsy.

Terapi dengan menggunakan stem cell sekarang ini dikenal dengan regenerative medicine, yaitu terapi dengan tujuan memperbaharui atau memperbaiki sel/jaringan yang rusak atau tidak berfungsi.

“Sumber stem cell sendiri bisa didapat dari macam-macam bagian tubuh, di antaranya sumsum tulang, darah tepi, jaringan lemak dan sel masing-masing organ. Banyak jenisnya,” ujar Dr Cynthia Retna Sartika, MSi, dari Prodia StemCell Indonesia (ProSTEM).

Terapi regeneratif ini sendiri menurut Dr Cynthia berawal dari saat sel telur dan sperma menyatu dan menjadi zygot (telur yang difertilisasi). “Manusia itu terbentuk dari satu sel, yang sekitar tiga minggu kemudian menjadi stem cell embrionik,” lanjutnya.

(ajg/vta)

source : http://health.detik.com/read/2013/12/03/152850/2431226/763/semakin-berkembang-di-indonesia-terapi-stem-cell-tak-perlu-lagi-ke-singapura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *